Tari Jaipong


Mengenal Filosofi Tari Jaipongan

Tari Jaipongan saat ini telah menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia. Jika dibedah lewat etimologi, kata Jaipong memang tidak memiliki makna khusus, namun di balik gerak tariannya, justru  tersirat banyak makna.

Sumber: common.wikipedia.org
Sumber: common.wikipedia.org




Sumber: kathleenazali.c2o-library.net
Sumber: kathleenazali.c2o-library.net


Meskipun populer dan sempat menjadi tren di tengah masyarakat untuk mempelajari genre tarian ini, bukan berarti tari jaipongan tidak mengundang kontroversi. Tari jaipongan menjadi fenomenal karena dianggap sebagai suguhan tarian erotisme dan mengeksploitasi tubuh perempuan. Terutama gerakan pinggul dalam jaipongan yang disebut-sebut mengundang gairah lelaki.
 
Hal tersebut sangat bertentangan dengan image turun-temurun yang telah dimiliki perempuan dalam pandangan masyarakat Sunda. Sosok ideal perempuan sejak lama adalah yang keibuan, berwibawa, kalem, penyabar, lembut, berkharisma, dan kesemuanya sama sekali tidak tercermin dalam tari jaipongan yang menunjukkan gerakan-gerakan atraktif dan dinamis.

Meskipun perempuan dalam masyarakat Sunda lama digambarkan sebagai sosok ideal berkedudukan tinggi, namun pada kenyataannya kekuatan perempuan tetap saja ada di bawah laki-laki, berbatas pada wilayah domestic, dan dibumbui filosofi dasar pasrah serta menerima keadaan.

Jauh sebelumnya, gebrakan awal perempuan Sunda telah lahir ketika Dewi Sartika pada tahun 1800-an mendirikan sakola istri guna memajukan kaum perempuan lewat berbagai keterampilan yang diajarkan. Selang seabad kemudian, berbagai cara dan perubahan terus dilakukan untuk melahirkan perempuan-perempuan Sunda yang berani keluar dari falsafah keperempuanan lamanya. Salah satunya tergambar dalam tari Jaipongan yang semakin menegaskan bahwa perempuan masa kini semakin berani membuka diri.

Filosofi Perempuan Sunda dalam Tari Jaipongan

Sumber: plus.google.com
Sumber: plus.google.com

Jauh sebelum Jaipongan muncul, menarikan tarian terutama oleh kalangan perempuan menak (kaum bangsawan dan kalangan konservatif), dianggap tabu. Hal ini berawal dari rusaknya citra penari yang dulu populer dengan sebutan ronggeng. Semakin ke sini, Tayuban yang lebih santun diperbolehkan, selama yang menari adalah laki-laki, dan jika ada penari perempuan haruslah yang berasal dari kalangan somah (rakyat).

Ketika jaipongan akhirnya muncul, penyampaiannnya dalam masyarakat pun menjadi berbeda. Tiap gerakan memiliki filosofi tersendiri.

Dalam tari, seringkali ditemukan ungkapan yang menggambarkan suatu kondisi masyarakat dan budayanya. Umumnya sang koreografer memiliki pemikiran tersendiri hingga dituang dalam gerakan tari. Tarian cenderung dijadikan media untuk menyampaikan aspirasi yang mungkin sulit diucapkan lewat kata.

Jika perempuan begitu sulitnya menyatakan bahwa mereka ingin keluar dari kukungan stereotip sosok perempuan yang ideal serta aturan mengikat yang membatasi ruang gerak, maka mereka bisa mengaspirasikannyaa lewat tari, dan dalam tataran Sunda, gerakan dalam Jaiponganlah yang bisa menyampaikannya.

Sejak ditampilkan pertama kali, Jaipong dianggap sebagai tarian modern yang mampu menggebrak gaya konservatif. Selain menyuarakan emansipasi, jaipongan memperlihatkan simbol kebebasan dan pemberontakan lewat gerakan kepala, tubuh, tangan dan kaki yang tampak leluasa.

Sumber: anisaindriani22.blogspot.com
Sumber: anisaindriani22.blogspot.com

Perhatikan saja, gerakan pencak silat yang dikreasikan dalam jaipong membuktikan bahwa seni dalam bentuk apa pun tidak membedakan jenis kelamin, yang dengan kata lain menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki setara. Gerak pencak, tangkis, gibas, meupeuh, dan giwar yang menunjukkan kejantanan, bisa dipoles dan disesuaikan sedemikian rupa dalam tarian jaipong untuk memperlihatkan keindahan dan kelembutan perempuan, namun menggunakan kekuatan yang tidak berbeda dengan laki-laki.

Gerak cingeus yang tergambar lewat gesitnya gerakan tubuh dan kepala menunjukkan kecekatan dan keluwesan perempuan dalam menghadapi tantangan hidup. Gerakan kaki dalam jaipong seperti gerak depok, sonteng, minced, dsb, yang menggambarkan kegesitan dan penyesuaian diri perempuan Sunda masa kini.

Gerakan liukan tubuh serta kelenturan seluruh anggota badan dalam menarikan jaipong menunjukkan gambaran perempuan fleksibel dalam menghadapi segala perubahan dan persoalan hidup. Gerak galeong ditambah lirikan mata menggambarkan perempuan masa kini yang berani menyuarakan pendapat serta mampu berkomunikasi.

Jika dilihat dari perpaduan variasi tempo musik dan dinamika gerakan yang kadang cepat, sedang, dan lambat, dapat dilihat bahwa perempuan Sunda tidaklah monoton dan bisa menyelaraskan diri sehingga tidak membosankan.
Secara menyeluruh, gerakan dalam jaipongan telah menggambarkan perempuan Sunda masa kini yang enerjik, penuh semangat dan tidak pantang menyerah, ramah, genit, berani, gesit dan lincah, namun tetap kuat dan santun. Ini secara langsung mengubah stereotip lama soal perempuan Sunda cantik-cantik tapi malas.

Mengenai perempuan dengan tubuh sintal dan paras cantik yang merupakan image ideal penari Jaipongan, merupakan aset dan daya tarik yang akan selalu menonjol dari para perempuan Sunda, yaitu di balik kelembutan paras serta beberapa gerakan dalam tarian, terdapat juga gerakan gesit dan mengejutkan. Bahwa perempuan, sebaiknya tak selalu dinilai hanya dari luar berdasar stereotip budaya lama yang telah melekat.

Busana yang di gunakan dalam tarian jaipong ini biasanya menggunakan kebaya berwarna cerah dan bawahan berupa kain jarit bermotif batik. Busana yang di gunakan pada tarian ini biasanya menggunakan ukuran longgar, terutama pada bagian bawah karena di sesuaikan dengan gerakannya yang lincah dan dinamis. Pada bagian kepala biasanya menggunakan sanggul yang di hias dengan hiasan seperti mahkota dan juga bunga untuk menambah kecantikan para penarinya. Selain itu penari juga di lengkapi dengan selendang yang di gunakan untuk menari sehingga terlihat sangat anggun.



sumber:
http://www.negerikuindonesia.com/2015/04/tari-jaipong-tarian-tradisional-dari.html 
https://sebandung.com/2016/01/mengenal-filosofi-tari-jaipongan/
Lebih baru Lebih lama