Rumah Adat Jawa Barat, Gambar, dan Penjelasannya

Tatar Sunda atau yang kini dikenal dengan nama Jawa Barat, selain dianugerahi alam yang subur dan indah, ternyata juga memiliki masyarakat yang berbudaya luhur. Masyarakat Sunda atau biasa disebut Urang Sunda sebagai masyarakat asli Jawa Barat adalah masyarakat ramah, sopan, riang, bersahaja, dan bersifat optimistis. Setidaknya begitulah yang tercatat dalam buku Suma Oriental yang ditulis Tome Pires pada abad ke 15 silam. Sifat-sifat orang Sunda tersebut memang tak bisa dipungkiri. Selain kita dapat langsung membuktikannya dengan bergaul bersama mereka, kita juga dapat melihat rumah adatnya yang mengandung.

rumah adat jawa barat
Seperti halnya rumah-rumah adat yang lain pada umumnya, Rumah Adat Jawa Barat umumnya dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, ijuk, daun kelapa, sirap, batu, dan tanah. Selain itu, bangunannya tidak berdiri langsung di atas tanah, melainkan berbentuk rumah panggung. Tujuannya adalah melancarkan sirkulasi udara sekaligus menghindari serangan dari binatang buas.
Tinggi panggung rumah-rumah khas Parahyangan ini biasanya sekitar 40 hingga 60 cm di atas permukaan tanah, cenderung dilengkapi geladak berupa tangga serta teras depan. Uniknya, bentuk atap pada Rumah Adat Jawa Barat memiliki perbedaan pada tiap-tiap wilayah Tanah Sunda.

1. Imah Julang Ngapak



Julang Ngapak dalam bahasa Indonesia berarti seekor burung yang mengepakkan sayapnya. Nama rumah ini demikian karena memang desain atapnya tampak melebar di sisi-sisinya, dan bila dilihat dari depan, bentuk atapnya memang terlihat seperti seekor burung yang mengepakkan sayapnya Rumah dengan desain atap Julang Ngapak umumnya akan dilengkapi dengan cagak gunting atau capit hurang di bagian bubungannya. Keduanya sama-sama digunakan untuk mencegah rembesnya air di bagian pertemuan antar atap yang terletak di ujung atas rumah. Atapnya sendiri dapat dibuat dari bahan rumbia, ijuk, atau alang-alang yang diikat pada kerangka atap dari bambu. Desain rumah Julang Ngapak hingga kini masih dapat dijumpai di Kampung Dukuh, Kuningan; Kampung Naga, Tasikmalaya; dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat. Bahkan selain itu, gedung Institut Teknologi Bandung beberapa di antaranya menggunakan desain atap rumah adat Jawa Barat yang satu ini.

2. Imah Togog Anjing 


Togog Anjing berarti anjing yang sedang duduk. Atap rumah adat satu ini memang memiliki desain yang menyerupai bentuk anjing saat duduk. Ada 2 bidang atap yang menyatu membentuk segitiga, dan satu bidang atap yang menyambung pada atap bagian depan. Atap yang menyambung ini biasa disebut sorondoy dan biasanya menjadi peneduh untuk teras depan rumah. Desain rumah Togog Anjing hingga kini masih sering dijumpai pada rumah tradisional masyarakat Garut. Beberapa bungalow, hotel, dan tempat-tempat peristirahatan di sekitar Puncak juga kerap ditemui menggunakan desain atap rumah ini.

3. Imah Badak Heuay 



Badak Heuay berarti badak yang sedang menguap. Dilihat dari desain atapnya, model rumah Badak Heuay tampak seperti rumah Tagog Anjing. Hanya saja, di bagian suhunan, atap belakang melewati tepi pertemuan sehingga tampak seperti mulut badak yang sedang menguap. Desain atap rumah adat Jawa Barat ini hingga sekarang masih sering digunakan masyarakat Sukabumi sebagai desain rumah hunian mereka.

4. Imah Jolopong 



Di antara desain rumah adat Jawa Barat lainnya, Jolopong menjadi yang paling familiar karena sering digunakan. Jolopong banyak dipilih karena lebih mudah dibuat dan lebih hemat bahan material. Sesuai namanya yang berarti “terkulai”, rumah Jolopong memang memiliki atap yang tampak tergolek lurus. Ada 2 bagian atap yang saling bersatu sama panjang. Jika ditarik garis imajiner, antara ujung atap satu dengan ujung atap lainnya akan terbentuk sebuah segitiga sama kaki. Desain rumah yang juga kerap disebut Suhunan Panjang ini sampai kini masih digunakan sebagian masyarakat Kampung Dukuh di Garut.

5. Imah Parahu Kumureb 



Dan yang terakhir adalah desain rumah Parahu Kumureb atau perahu tengkurap. Desain atap rumah adat Jawa Barat ini memiliki 4 bagian utama. Dua bagian di depan dan belakang berbentuk trapesium, dan dua bagian di sisi kanan kiri berbentuk segitiga sama sisi. Di Palembang, desain atap Parahu Kumureb juga disebut desain atap Limasan. Sesuai namanya, atap rumah adat Sunda satu ini memang tampak seperti sebuah perahu yang terbalik atau tengkurap. Karena terlalu banyak sambungan, desain atap ini sering kali mudah bocor sehingga jarang digunakan. Kendati begitu, masyarakat Kampung Kuta di Kabupaten Ciamis masih ada yang menggunakannya.


Sumber:
http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/11/rumah-adat-jawa-barat-sunda-gambar.html
https://kp-sindangbarang.com/?p=153
 http://edesainminimalis.com/contoh-gambar-desain-rumah-adat-jawa-barat-dan-keterangannya/rumah-adat-khas-provinsi-jawa-barat/
http://edesainminimalis.com/contoh-gambar-desain-rumah-adat-jawa-barat-dan-keterangannya/
Lebih baru Lebih lama